Kholifahalyani's Blog











{Maret 8, 2010}   sekilas tentang DEBU

Lahir di tengah situasi zaman yang telah melupakan nilai-nilai spiritual, DEBU berusaha mengisi kekurangan itu. Beda dengan kelompok lain, DEBU memiliki ciri khas yang mandiri. Lirik-liriknya sufistik, mistis, lahir dari kalbu yang mabuk cinta dan kerinduan pada Sang Khalik. Boleh dibilang lagu-lagu DEBU adalah syair asmara, kemesraan mendalam pada cinta Sang Pencipta.

Musik yang dimainkan DEBU kaya nuansa. Tak ada konsep tertentu yang mengikatnya, karena itu musik mereka amat bervariasi dan tidak membosankan. Di dalamnya ada dentam rebana yang kuat, yang lembut, ada lengkingan seruling yang menggugah?kadang-kadang irama mereka mengingatkan kita pada nuansa padang pasir, country, bahkan jazz dan world music. Satu yang sudah jelas: musik DEBU ini universal. Mereka bisa diterima di kalangan mana pun, kapan pun, di mana pun di seluruh dunia.

Bukan cuma suara indah dan merdu yang menjadi andalan mereka, tetapi juga kepiawaian memainkan alat musik. DEBU menggunakan beraneka alat musik dari belahan dunia yang berbeda. Santur dari Iran, misalnya, atau harpa, atau alat musik khas Irlandia, yaili tambur dari Turki, gendok-gendok dari Sulawesi Selatan digabungkan dengan harmonis bersama biola, bass dan berbagai jenis perkusi. Uniknya, bagi DEBU, kemampuan mereka bermain musik adalah wujud berkah dan rahmatullah…!

Yang terutama, bagi DEBU, musik adalah media dakwah dan syiar Islam, yang sanggup menggugah semangat dan kecintaan pada Ilahi, amat berbeda dengan jenis musik lain yang ada di dunia saat ini. Musik DEBU adalah zikir…cara yang indah dan artistik untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Di tengah kegelisahan zaman, DEBU berharap musik yang mereka mainkan dapat menjadi setetes embun penyegar bagi semua golongan tanpa membedakan ras atau kelas. DEBU bukan kelompok eksklusif: ia hadir dalam keramahan semangat Islam. Musiknya memberi inspirasi yang lebih jauh daripada sekedar kenikmatan mendengar karena ia adalah zikir: berzikir bersama DEBU bisa dilakukan di mana pun, di mobil, di kantor, bahkan di dapur ketika memasak.

Ilham yang diterima oleh Syekh Fattaah yang menunjukkan Indonesia sebagai tempat yang harus dituju.

Memang sebagian besar dari DEBU berasal dari negeri Paman Sam, tetapi ada juga anggota yang berasal dari Swedia, Inggris dan, terakhir, bergabung juga anggota dari Indonesia. Keanekaragaman etnik yang menunjukkan keterbukaan pola pikir: itulah DEBU.

Dibimbing oleh Syekh Fattaah, seorang berasal dari Amerika Serikat, DEBU hijrah ke Indonesia sejak tahun 1999. Ini adalah perjalanan pencarian spiritual berdasar ilham yang diterima Sheyh Fattaah?suatu perjalanan dalam petunjuk Allah, Yang Maha Karim.

Yoyoh Rohmawati

Koq DEBU

Pertanyaan ini banyak dilontarkan pada kami. Mereka bilang, grup musik sebesar ini, koq namanya “DEBU”? Bagi kami, itu tidak aneh. Secara maknawi, nama itu sudah menjadi identitas kelompok kami sejak di New Mexico sana. Saat itu, Syekh Fattaah memberi nama kelompok ini, Dust on the Road, atau Debu di Jalanan. Personilnya, tentu saja tidak seperti sekarang. Saat itu, sebagian dari kami masih kanak-kanak. Jadi, bisa dibilang bahwa para pemain Dust on the Road atau Dust saat itu ya para orang tua kami, yakni generasi pertama kafilah ini. Bahkan, Syekh Fattaah sering kali menjadi vokalisnya.

Setelah di Indonesia, kami menyelaraskan nama kelompok ini sesuai dengan ejaan dan bahasa Indonesia, yakni DEBU. Nama yang indah. Sederhana dan mudah diingat. Formasinya pun berubah sama sekali. Ada regenerasi di sini. Antara lain, Syekh Fattaah yang merupakan guru rohani kami, tidak lagi memimpin vokal. Sebaliknya, ia lebih suka berkhalwat saja di ruangannya. Dengan sendirinya, dinamika DEBU sekarang berada di generasi kedua meski untuk instrumen tertentu masih dipegang oleh beberapa orang senior.

Secara formasi, DEBU memang telah berbeda dengan DUST, pun dalam hal komposisi. Sekarang ini, Syekh Fattaah lebih sering membuat syair-syairnya dalam bahasa Indonesia. Namun, satu hal yang masih menjadi ciri dan prinsip bagi DEBU adalah, bahwa musik dan nyanyian yang dilakukan hanyalah media untuk dakwah dan syiar ilmu-ilmu Islam, yakni ilmu lahir dan batin. Syekh Fattaah selalu menekankan pada kami, bahwa bermusik dan bernyanyi bukanlah segala-galanya dan bukan pula tujuan. Jika suatu saat aktivitas ini membuat kami berpaling dari kecintaan terhadap Allah swt, maka Syekh Fattaah akan menghentikan aktivitas ini dan membubarkannya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: