Kholifahalyani's Blog











{April 9, 2010}   lagu-lagu dan syair Syekh Fattaah (debu)

Kita mengakui dan menyadari bahwa syair Syekh Fattaah penuh makna. Lirik-liriknya bukan asbun (asal bunyi –ed) karena tercipta bukan atas nafsunya melainkan atas hal-Nya. Tentang keyakinan itu, Allah SWT telah menjelaskan dalam firmanNya, Syekh Fattaah “Jika Aku telah mencintai hambaKu, maka kujadikan lidahnya sebagai lidahKu, matanya adalah mataKu dan pendengarannya adalah pendenngaranKu…”

Pernah ada beberapa orang yang mengkritik kata-kata yang digunakan Syekh dalam syairnya. Mereka bilang, itu bukan bahasa yang benar. Menanggapi itu, biasanya Syekh memiliki alasan jelas dan kuat. Namun bila orang yang mengkritik itu tetap ngotot, Syekh akan menunjukkan acuan dan pedomannya dalam berbahasa Indonesia, yakni kamus bakunya Purwadarminta, kamus kontemporernya Hasan Shadily serta pedoman ejaan milik J.S. Badudu.

Syekh Fattaah juga tidak menutup diri dari bahasa yang umum dipakai. Syekh Fattaah sangat cerdas dalam hal bahasa. Tak kurang sepuluh bahasa dipahaminya; Inggris, Turki, Persia, Spanyol, Jerman, Arab, Jepang, Italia, Perancis dan Indonesia. Di sini, beliau juga sangat tertarik dengan bahasa Sunda sehingga membeli beberapa buah buku yang menuntun pelajaran bahasa tersebut. Sekedar bilang ‘hatur nuhun’ dan ‘kumaha damang?’ sih, beliau sudah biasa (he… he…).

Dari Bilik SF (Musik & Syair)

Sekarang ini, beliau makin asyik dengan gubahan syair-syair terbarunya. Tak tanggung-tanggung, dalam masa bersamaan, beliau menulis syair dalam enam bahasa; Indonesia, Turki, Persia, Cina, Arab dan Spanyol. Wah, kebayang nggak sih? Memang sih, beliau ‘keren abis’ dalam kemampuan bahasa. Tak cukup itu, beliau pun sudah melirik-lirik bahasa Urdu karena beliau ingin syair-syairnya dinikmati juga oleh masyarakat India. Masya Allah.

Dalam menggarap syair-syairnya, SF tidak pernah mengabaikan norma dan kaidah syair-syair sesuai sumber asal bahasa yang dipakainya. Untuk mempermudah kinerjanya, SF tak sungkan browse berbagai situs bahasa dunia. Khusus bahasa Cina, selain browse, beliau juga punya rekan Tionghoa yang bisa diajaknya menyimak dan merevisi, kalo perlu- kanji-kanji Cina yang disusunnya. Tetapi, alih-alih mengubah atau memprotes, orang Tionghoa yang Sin Sei itu malah balik suka dan mengagumi syair SF. “Saya makin semangat menulis syair Cina,” ungkap SF senang.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: